Hukum Aqiqah

5 min read

Kelahiran merupakan hal yang sangat menggembirakan bagi siapapun, sehingga mendatangkan banyak ucapan selamat bagi keluarga yang baru dikaruniai seorang bayi.

Apabila ada seorang bayi yang lahir dalam sebuah keluarga tentu akan membuat kedua orangtuanya sibuk menyiapkan banyak hal, salah satunya dengan melaksanakan hajatan aqiqah.

Biasanya upacara aqiqah dilakukan dengan cara menyembelih hewan kambing atau domba, kemudian dibagi-bagikan kepada keluarga dan tetangga. Selanjutnya simaklah pembahasan berikut.

Defenisi Aqiqah

Aqiqah bagi umat muslim merupakan suatu tradisi pemotongan kambing atau domba dengan niatan bersedekah sembari mengungkapkan kebahagian serta rasa syukur kepada Allah Subhanahu Wa Ta’ala.

Secara bahasa arti dari aqiqah adalah “memotong” yang berasal dari bahasa arab yaitu “al-qat’u”.  Aqiqah secara istilah merupakan kegiatan penyembelihan hewan ternak  yaitu pada hari ke tujuh setelah bayi dilahirkan. Hal ini dilakukan sebagai wujud rasa syukur kepada Allah Subhnahu Wa Ta’ala.

Aqiqah biasanya memang dilakukan pada hari ke-7 dan kemudian jika tidak mampu melaksanakannya pada hari ketujuh tersebut bisa juga dilaksanakan pada hari ke-14, atau ke-21 setelah kelahiran sang bayi tersebut.

Adapun tata caranya adalah bagi anak laki-laki, aqiqah dilaksanakan dengan memotong dua ekor kambing. Sementara untuk anak perempuan cukup satu ekor kambing saja. Kemudian dibagi-bagikan ke tetangga atau kerabat.

Membiayai aqiqah merupakan tanggung jawab ayah sang bayi. Namun dalam praktiknya prosesi aqiqah diperbolehkan dibiayai oleh orang selain ayah atau orangtuanya.

Sejarah Aqiqah

Sejarah tradisi aqiqah diyakini berakar dari kisah berkurbannya Nabi Ibrahim ‘Alaihi Salam.

Setelah menikah dalam kurun waktu yang cukup lama dengan Siti Sarah, Nabi Ibrahim ‘alaihis salam belum juga dikaruniai keturunan.

Kemudian Sarah meminta agar Ibrahim menikahi Siti Hajar, yang pada waktu itu bekerja sebagai pembantu di keluarga Ibrahim.

Setelah kemudian menikah dengan Hajar, Nabi Ibrahim akhirnya dikaruniai seorang putra yang nernama Ismail. Ibrahim sangat menyayangi Ismail kecil.

Pada suatu hari tepatnya malam 8 Zulhijah, Nabi Ibrahim bermimpi mendapat pesan yang berupa perintah Allah untuk menyembelih Ismail anaknya.

Namun pada saat itu Ibrahim masih meragukan apakah perintah itu datang dari Allah atau bukan. Yang mana 8 Zulhijjah diperingati dengan puasa sunnah tarwiyah yang berarti perenungan.

Kemudian mimpi itu datang kembali pada tanggal 9 Zulhijjah yang akhirnya meyakinkan Ibrahim bahwa pesan itu datang dari Allah. 9 Zulhijjah kemudian diperingati dengan puasa sunnah arafah yang berarti pengetahuan.

Namun pada saat hendak menyembelih anaknya, seketika dengan kuasaNya Allah mengganti anaknya dengan hewan ternak.

Hal ini disebut dengan Qurban, yang dilaksanakan pada hari raya Idul Adha. Qurban berbeda dengan Aqiqah namun menjadi salah satu akar sejarah dari tradisi Aqiqah.

Baca Juga : Doa Menyembelih Hewan Qurban

Aqiqah sendiri sebenarnya telah dilakukan sejak zaman jahiliyah, namun dengan tata cara yang berbeda dari yang diajarkan Rasulullah keapada umat Muslim.

Kaum jahiliyah melakukan hal yang sama untuk anaknya yang baru lahir, terutama jika anaknya laki-laki. Caranya adalah dengan menyembelih kambing kemudian darahnya dilumuri ke kepala sang anak.

Dari Buraidah Hadits riwayat Abu Dawud “Dahulu kami di masa jahiliyah apabila salah seorang di antara kami mempunyai anak, ia menyembelih kambing dan melumuri kepalanya dengan darah kambing itu. Maka, setelah Allah mendatangkan Islam, kami menyembelih kambing, mencukur (menggundul) kepala si bayi, dan melumurinya dengan minyak wangi.” (HR Abu Dawud).

Kemudian juga diterangkan dalam hadis riwayat Ibnu Hibban dari Aisyah Radiyallahu ‘Anhu, ia berkata,

‘Dahulu orang-orang pada masa jahiliyah apabila mereka beraqiqah untuk seorang bayi,mereka melumuri kapas dengan darah aqiqah, lalu ketika mencukur rambut si bayi mereka melumurkan pada kepalanya’. Maka Rasulullah bersabda, ‘Gantilah darah itu dengan minyak wangi’.

Sejarah Islam kemudian mencatat Rasulullah juga menggelar akikah untuk dua orang cucunya dari anak Fatimah, Hasan dan Husein.

Kemudian aqiqah yang dicontohkan oleh Rasulullah diikuti oleh para sahabat, tabiin, tabiit tabiin (generasi setelah tabiin), dan diteruskan sebagai tradisi dan sunnah pada masa-masa berikutnya.

Hukum

Perihal hukum aqiqah terdapat beberapa perbedaan dari para ulama. Perbedaan ini muncul hanya dikarenakan perbedaan pemahaman terhadap hadis-hadis yang membahas tentang hukum aqiqah.

Ada pendapat yang menyatakan hukum aqiqah adalah wajib, disisi lain ada pula yang menyatakan hukumnya ialah sunah muakkadah (sunnah yang dianjurkan).

Ulama Zahiriyah berpendapat bahwa hukum aqiqah adalah wajib bagi orang yang menafkahi si anak, maksudnya orang tua bayi. Dasar hukumnya ialah bersumber dari sabda Rasulullah:

“Anak yang baru lahir itu tergadai dengan akikahnya yang disembelih pada hari ketujuh dari hari kelahirannya, dan pada hari itu juga hendaklah dicukur rambutnya dan diberi nama.” (HR Ahmad dan Tirmidzi).

Namun jumhur (mayoritas) ulama berpendapat bahwa hukum aqiqah ialah sunah muakkadah. Pendapat ini bersumber dari sabda Rasulullah yaitu,

“Barang siapa di antara kamu ingin bersedekah buat anaknya, bolehlah ia berbuat.” (HR Ahmad, Abu Dawud dan an-Nasai).

Disisi lain para ahli fiqih pengikut Abu Hanifah (Imam Hanafi) berpendapat bahwa aqiqah tidaklah wajib maupun sunah. Melainkan termasuk ibadah tatawwu’ (sukarela). Hal ini berdasarkan dari sabda Rasulullah:

“Aku tidak suka sembelih-sembelihan. Akan tetapi, barang siapa dianugerahi seorang anak, lalu dia hendak menyembelih hewan untuk anaknya itu, dia dipersilakan melakukannya.” (HR. al-Baihaki)

Tata Cara Aqiqah dalam Islam

Sebelum melaksanakan aqiqah, ada beberapa tuntunan pelaksanaan aqiqah yang perlu diperhatikan dalam pelaksanaan aqiqah, diantaranya ialah:

1. Syarat-syarat dalam memilih hewan untuk aqiqah

Kambing atau domba yang dipilih untuk melaksanakan aqiqah memiliki kriteria yang serupa dengan hewan qurban, diantara lain lengkap dan sehat fisiknya serta umurnya tidak boleh kurang dari setengah tahun.

2. Waktu yang dianjurkan untuk melaksanakan aqiqah

Terdapat sebuah hadits dimana Rasulullah bersabda: “Semua anak bayi tergadaikan dengan aqiqahnya yang pada hari ketujuhnya disembelih hewan (kambing), diberi nama dan dicukur rambutnya.”

Kemudian dari hadits tersebut para ulama sepakat bahwa waktu yang paling baik untuk pelaksanaan aqiqah adalah hari ke-7 semenjak hari kelahiran. Namun jika berhalangan atau lainnya, aqiqah dapat dikerjakan pada hari ke-14 atau hari ke-21.

Disamping itu apabila sang orangtua berada dalam kondisi ekonomi yang tidak memungkinkan untuk melaksanakan aqiqah, maka kewajiban melaksanakan aqiqah pun gugur.

Karena, seorang muslim diperbolehkan untuk tidak menunaikan ibadah aqiqah apabila secara ekonomi memang benar-benar tidak mampu.

3. Membagi daging hewan hasil aqiqah

Dalam agama Islam daging aqiqah yang telah disembelih harus dibagikan kepada para tetangga atau kerabat. Namun perbedaan antara daging hasil aqiqah dengan daging kurban ialah dalam bentuk pembagiannya.

Daging aqiqah haruslah dibagikan dalam keadaan sudah matang, tidak boleh masih dalam kondisi yang mentah seperti halnya daging kurban.

Hadits Aisyah Radiyallahu ‘Anhu:

“Sunnahnya dua ekor kambing untuk anak laki-laki dan satu ekor kambing untuk anak perempuan. Ia dimasak tanpa mematahkan tulangnya. Lalu dimakan (oleh keluarganya), dan disedekahkan pada hari ketujuh”. (HR. Al-Bayhaqi)

Orang yang punya hajat dan keluarga disunnahkan juga untuk mengonsumsi daging aqiqah tersebut. Sedang sepertiga daging lainnya dibagikan pada tetangga dan fakir miskin.

Hal ini seperti yang tertuang dalam Quran Surah Al-Insan ayat 8, firman Allah Subhanahu Wa Ta’ala:

وَيُطْعِمُونَ ٱلطَّعَامَ عَلَىٰ حُبِّهِۦ مِسْكِينًا وَيَتِيمًا وَأَسِيرًا

“Mereka memberi makan orang miskin, anak yatim, dan tawanan, dengan perasaan senang”. (Q.S. Al-Insan 8)

4. Mencukur rambut

Dalam tata cara aqiqah terdapat juga sunnah mencukur rambut. Rasulullah Shalallahu ‘Alaihi Wasallam sangat menganjurkan untuk melakukan cukur rambut bayi yang baru lahir pada hari ke-7 nya.

5. Memberi nama anak

Pada saat aqiqah dilaksanakan disunnahkan pula memberikan nama yang memiliki makna yang baik. Karena dengan memberikan nama yang baik diharapkan mendoakan sang anak sesuai dengan sebutan nama tersebut.

6. Bacaan doa bagi bayi yang diaqiqahkan

Berikut ini adalah bacaan doa bagi anak yang sedang diaqiqah:

“U’iidzuka bi kalimaatillaahit tammaati min kulli syaithooni wa haammah. Wa min kulli ‘ainin laammah.”

Artinya : “Saya perlindungkan engkau, wahai bayi, dengan kalimat Allah yang prima, dari tiap-tiap godaan syaitan, serta tiap-tiap pandangan yang penuh kebencian.”

7. Bacaan doa saat menyembelih hewan aqiqah

Saat menyembelih hewan aqiqah disunnahkan untuk membaca:

“Bismillah, Allahumma taqobbal min muhammadin, wa aali muhammadin, wa min ummati muhammadin.”

Artinya : “Dengan nama Allah, ya Allah terimalah (kurban) dari Muhammad dan keluarga Muhammad serta dari ummat Muhammad.” (HR Ahmad, Muslim, Abu Dawud)

Tujuan Aqiqah

Adapun tujuan dari pelaksanaan aqiqah antara lain:

Menghidupkan Sunah Rasul

Aqiqah merupak sunnah yang dianjurkan oleh Rasulullah Shalallahu ‘Alaihi Wasallam dalam meneladani Nabi Ibrahim ‘Alaihis Salam. Tentunya bagi muslim yang menghidupkan sunnah akan mendapatkan ganjaran berkah dan pahala.

Berlindung dari Syaitan

Aqiqah mengandung unsur perlindungan dari setan karena dikhawatirkan hadirnya seorang bayi dapat mengundang setan yang berniat mengusik. Sesuai dengan makna hadis berikut:

“Setiap anak itu tergadai dengan akikahnya.” Sehingga, anak yang telah ditunaikan akikahnya insya Allah lebih terlindung dari gangguan setan yang sering mengganggu anak-anak. Hal inilah yang dimaksud oleh Imam Ibnu Qayyim al-Jauziyah “bahwa lepasnya dia dari setan tergadai oleh akikahnya”.

Syafaat Bagi Orangtua

Aqiqah merupakan sebuah bentuk tebusan bagi sang anak untuk memberi syafaat bagi kedua orang tuanya dikemudian hari yaitu pada hari akhir, sebagaimana Imam Ahmad mengatakan, “Dia tergadai dari memberikan syafaat bagi kedua orang tuanya (dengan akikahnya).”

Mendekatkan diri Kepada Allah

Tujuan aqiqah salah satunya adalah bentuk mendekatkan diri kepada Allah Subhanahu Wa Ta’ala.

Menambah Rasa Syukur

Aqiqah juga merupakan sarana perwujudan rasa syukur dan gembira dalam melaksanakan syariat Islam serta bertambahnya keturunan muslim yang akan memperbanyak umat Rasulullah Shalallahu ‘Alaihi Wasallam pada hari akhir kelak.

Memperkuat Persaudaraan

Dengan membagikan hewan aqiqah akan melekatkan rasa sosial antar sesama terutama tetangga dekat lingkungan tinggal dan kerabat atau fakir miskin yang mendapat hasil aqiqah tersebut.

Demikianlah pembahasan mengenai hukum aqiqah. Semoga dapat memberikan pengetahuan bagi kita semua. Wallahu a’lam bish shawab.

Pernikahan Dalam Islam

Neny S.
8 min read

Doa Kelahiran Anak

Neny S.
5 min read

Doa Ibu Hamil

Neny S.
4 min read

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *