Pernikahan Dalam Islam

8 min read

Pernikahan Dalam Islam

Siapa yang tidak menginginkan memiliki pasangan dibawah ikatan pernikahan? Semua orang yang telah mencapai kedewasaan tentunya menginginkan hidup berkasih sayang serta memiliki keturunan dari sebuah pernikahan.

Pernikahan dalam Islam merupakan salah satu ibadah yang paling utama dikenal di masyarakat. Pernikahan tak hanya berfungsi untuk membangun rumah tangga dan meneruskan keturunan melainkan memperkuat silaturahim.

Bagi yang hendak melangsungkan pernikahan atau sekedar mencari bahan makalah tentang masalah pernikahan dalam Islam, mari simak pembahasan berikut ini.

Defenisi Pernikahan

Secara bahasa ‘nikah’ pengertiannya adalah menghimpun atau mengumpulkan. Menurut Undang-undang Nomor 1 Tahun 1974 pernikahan adalah ikatan lahir batin antara seorang pria wanita sebagai suami istri. Di mana tujuannya adalah membentuk keluarga yang harmonis dan kekal berdasarkan Ketuhanan Yang Maha Esa.

Sementara menurut Islam pernikahan adalah bertemu atau berkumpulnya dua orang berlawan jenis yang bukan mahram dalam ikatan janji dan di sahkan atas mereka untuk berhubungan suami istri.

Tujuan Pernikahan Dalam Islam

Pernikahan yang dilangsungkan sepasang sejoli tentunya memiliki tujuan-tujuan yang diharapkan akan terjadi, diantaranya:

Beribadah Kepada Allah SWT

Pada saat mengisi formulir pernikahan di KUA ada pertanyaan tentang apa tujuan menikah. Sebagian besar orang akan menjawab dengan kata-kata ‘untuk beribadah kepada Allah’.

Hikmah terbesar dari sebuah pernikahan didalam Islam memang adalah untuk beribadah kepada Allah Subhanahu Wa Ta’ala. Pernikahan oleh islam dipandang sebagai bagian dari penyempurnaan ibadah seorang Muslim.

Rasulullah Shalallahu ‘Alaihi Wasallam bersabda yang artinya:

“Barangsiapa menikah, maka ia telah menyempurnakan separuh ibadahnya (agamanya). Dan hendaklah ia bertakwa kepada Allah SWT dalam memelihara yang sebagian lagi.” (HR. Thabrani&Hakim)

Banyak orang takut menikah karena masalah ekonomi, terutama memikirkan bagaimana mencari modal untuk acara pesta pernikahan atau walimahan, biaya undangan, membeli cincin, seserahan atau membayar mahar.

Padahal pernikahan yang sesungguhnya dalam Islam adalah akad nikah yang khidmat dan sederhana karena diniatkan untuk beribadah kepada Allah.

Kemudian keberkahan dari sebuah pernikahan juga akan berimbas pada terbukanya pintu rezeki oleh Allah Subhanahu Wa Ta’ala.

Menjadi Pasangan yang Bertakwa

Didalam Islam pernikahan tidak hanya memerintahkan kita mencari pasangan yang bertakwa, namun juga agar kita sendiri dapat menjadi pasangan yang bertakwa.

Pernikahan yang baik akan menciptakan pasangan yang saling bahu-membahu dalam beribadah dan meningkatkan ketakwaan. Menikah membuat pasangan dapat saling mengingatkan apabila terdapat kehilafan dalam beribadah kepada Allah.

Dalam Quran Surah Al-Furqon ayat 74 terdapat doa yang menggambarkan setiap pasangan ingin memiliki keluarga yang bertaqwa:

وَٱلَّذِينَ يَقُولُونَ رَبَّنَا هَبْ لَنَا مِنْ أَزْوَٰجِنَا وَذُرِّيَّٰتِنَا قُرَّةَ أَعْيُنٍ وَٱجْعَلْنَا لِلْمُتَّقِينَ إِمَامًا

“Ya Tuhan kami, anugerahkanlah kepada kami isteri-isteri kami dan keturunan kami sebagai penyenang hati (kami), dan jadikanlah kami imam bagi orang-orang yang bertakwa.” (QS. Al-Furqon 74).

Mendapatkan Keturunan

Tujuan menikah dalam Islam yang selanjutnya adalah untuk memperoleh keturunan. Setiap umat Muslim yang telah menikah berarti akan melestarikan keturunan putra-putri Adam, yang berarti memperbanyak kaum muslim penyembah Allah.

Dalam Al-Quran Surah An-Nahl ayat 72 Allah Subhanahu Wa Ta’ala berfirman:

وَٱللَّهُ جَعَلَ لَكُم مِّنْ أَنفُسِكُمْ أَزْوَٰجًا وَجَعَلَ لَكُم مِّنْ أَزْوَٰجِكُم بَنِينَ وَحَفَدَةً وَرَزَقَكُم مِّنَ ٱلطَّيِّبَٰتِ ۚ أَفَبِٱلْبَٰطِلِ يُؤْمِنُونَ وَبِنِعْمَتِ ٱللَّهِ هُمْ يَكْفُرُونَ

“Allah menjadikan kamu isteri-isteri dari jenis kamu sendiri dan menjadikan bagimu isteri-isteri kamu itu, anak-anak dan cucu-cucu, dan memberimu rezeki yang baik. Maka mengapakah mereka beriman kepada yang bathil dan mengingkari nikmat Allah?” (QS. An-Nahl 72).

Kemudian generasi keturunan dari sebuah pernikahan juga dapat menciptakan ketenangan lahir dan batin bagi pasangan yang memperolehnya.

Menciptakan Generasi Beriman

Tujuan menikah dalam pandangan Islam berikutnya adalah untuk menciptakan generasi beriman. Membangun generasi muslim saja tidak cukup, haruslah muslim yang beriman agar esensi dari penciptaan manusia yaitu untuk beribadah kepada Allah dapat teruwujud.

Hal ini hanya bisa dicapai jika pernikahan yang dimiliki pasangan muslim tersebut sesuai dengan syariat agama Islam. Sebagaimana firman Allah yang disebutkan dalam At-Thur ayat 21 yaitu:

وَٱلَّذِينَ ءَامَنُوا۟ وَٱتَّبَعَتْهُمْ ذُرِّيَّتُهُم بِإِيمَٰنٍ أَلْحَقْنَا بِهِمْ ذُرِّيَّتَهُمْ وَمَآ أَلَتْنَٰهُم مِّنْ عَمَلِهِم مِّن شَىْءٍ ۚ كُلُّ ٱمْرِئٍۭ بِمَا كَسَبَ رَهِينٌ

“Dan orang-orang yang beriman, dan yang anak cucu mereka mengikuti mereka dalam keimanan, Kami hubungkan anak cucu mereka dengan mereka, dan Kami tiada mengurangi sedikitpun dari pahala amal mereka. Tiap-tiap manusia terikat dengan apa yang dikerjakannya.” (QS. At-Thur 21).

Anak-anak yang Mendoakan

Menurut Imam Al-Ghazali tujuan menikah selanjutnya adalah thalabul syafaat yaitu meminta pertolongan kepada anak-anak kita. Setiap anak yang mendoakan kedua orangtuanya akan memberi manfaat bagi orangtuanya.

Dengan menikah seseorang dapat memperoleh keturunan dan meminta pertolongan untuk didoakan oleh anak tersebut. Karena anak yang soleh akan memberikan syafaat untuk orang tua yang telah meninggal dunia kelak.

Kriteria Pasangan Ideal dalam Islam

Islam mengajarkan umatnya untuk memilih kriteria pasangan hidup yang ideal, hal ini dikarenakan di dalam Islam  perceraian adalah hal yang tidak baik karena dibenci oleh Allah.

Rasulullah Shalallahu ‘Alaihi Wasallam menganjurkan seorang lelaki yang hendak menikah untuk benar-benar memperhatikan beberapa kriteria dalam menentukan calon pendamping hidupnya.

Sebagaimana hadis yang diriwayatkan oleh Imam Al-Bukhari dan Imam Muslim dari sahabat Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhuma Rasulullah bersabda:

عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ، عَنِ النَّبِيِّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ، قَالَ: ” تُنْكَحُ الْمَرْأَةُ لِأَرْبَعٍ: لِمَالِهَا، وَلِحَسَبِهَا، وَلِجَمَالِهَا، وَلِدِينِهَا، فَاظْفَرْ بِذَاتِ الدِّينِ تَرِبَتْ يَدَاكَ

Dari Abu Hurairah RA, Rasulullah SAW bersabda: “Wanita umumnya dinikahi karena 4 hal: hartanya, nasabnya, kecantikannya, dan agamanya. Karena itu, pilihlah yang memiliki agama, kalian akan beruntung.” (HR. Bukhari&Muslim)

Dari hadis di atas dapat disimpulkan ada empat kriteria wanita ideal yang pada umumnya dapat dijadikan sebagai pedoman dalam menentukan pendamping hidup.

1. Harta

Siapa yang tidak ingin menikahi wanita yang kaya? Kekayaan seorang wanita tentu menjadi daya tarik tersendiri baginya.

Namun harta yang dimaksudkan dalam kriteria ini bukan berarti harus seorang perempuan yang bergelimang materi. Melainkan perempuan yang secara hartanya setara dengan kekayaan yang seorang laki-laki miliki karena kedepannya akan menghindari masalah-masalah akibat kesenjangan ekonomi.

Rasulullah Shalallahu ‘Alaihi Wasallam juga menganjurkan agar kita memilih pasangan hidup yang setara dalam hal agama dan status sosialnya.

Pada zaman Rasulullah terdapat sebuah kisah dimana orang biasa bernama Zaid bin Haritsah radhiyallahu ‘anhu menikahi wanita kaya bernama Zainab binti Jahsy radhiyallahu ‘anha. Kemudian hasilnya pernikahan mereka tak dapat berlangsung lama.

2. Nasab

Nasab artinya adalah keturunan. Keturunan merupakan poin penting dalam Islam untuk menemukan pasangan yang ideal.

Rasulullah Shalallahu ‘Alaihi Wasallam menganjurkan agar seorang lelaki memilih istri juga dengan memperhatikan nasabnya.

Seperti misalkan wanita tersebut adalah anak ulama, atau apakah wanita tersebut berasal dari keluarga yang harmonis atau malah dibesarkan dilingkungan yang kasar.

Karena biasanya hal tersebut akan mempengaruhi kebiasaan sang wanita dalam bersikap kedepannya, yang mungkin tidak tampak pada awal perkenalan, termasuk dalam hal agamanya.

3. Paras

Rasulullah Shalallahu ‘Alaihi Wasallam juga menganjurkan seorang lelaki menikahi seorang wanita karena kecantikannya. Setiap pria normal pasti menginginkan wanita cantik sebagai pendamping hidupnya.

Cantik juga dimaksudkan dengan apabila dilihat maka wanita tersebut sedap dipandang mata dan menyenangkan hati, agar pernikahan menjadi harmonis dan berkekalan.

Dalam taaruf pun agama Islam memperbolehkan sepasang calon mempelai untuk saling melihat ketika hendak dilamar. Sehingga keduanya dapat mempertimbangkan calon pasangan mereka dari segi fisiknya.

4. Agama

Dari empat kriteria yang dianjurkan Rasulullah, menikah kerena agama merupakan hal yang paling penting menjadi bahan pertimbangan.

Jika wanita yang dipilih bagus akhlaknya sehingga mau taat pada suami kelak, maka wanita tersebut akan menciptakan keluarga yang harmonis dan anak-anak yang saleh.

Sedangkan kriteria lainnya tentu menjadi bonus tersendiri bila terpenuhi. Agama sudah sepatutnya menjadi dasar pertimbangan dalam pemilihan kriteria calon istri atau pasangan.

Rukun Nikah

Ada beberapa hal di dalam Islam yang menjadi rukun nikah antara lain:

1. Mempelai laki-laki

Rukun menikah yang pertama adalah adanya mempelai laki-laki. Yaitu pada saat akad nikah laki-laki yang menjadi calon mempelai haruslah berada tepat didepan penghulu.

2. Mempelai Perempuan

Yang kedua tentunya adanya mempelai perempuan yang halal untuk dinikahi. Tidak boleh memperistri perempuan yang telah merupakan mahram seperti saudara kandung, saudara sepersusuan, atau mertua.

Keberadaan sang wanita harus jelas ditempat akad, meskipun berbeda ruangan tetapi ada ditempat yang sama. Jadi tidak diperbolehkan menikah secara jarak jauh atau online.

3. Wali Nikah Perempuan

Selanjutnya adalah adanya wali nikah. Wali nikah merupakan orangtua laki-laki dari mempelai perempuan yakni ayah.

Jika ayah sang perempuan tidak ada atau tidak mampu maka boleh diganti sesuai prioritas yang urutannya sebagai berikut.

Jika tidak ada ayah maka bisa diganti dengan kakek, apabila tidak ada kakek maka saudara laki-laki kandung kakak, kemudian saudara laki-laki adik, saudara laki-laki seayah, saudara kandung ayah (pakde atau om), anak laki-laki dari saudara kandung ayah.

4. Saksi Nikah

Tidak sah sebuah pernikahan apabila dilaksanakan tanpa adanya dua orang saksi nikah. Syarat dalam menjadi saksi nikah adalah Islam, baligh, merdeka, berakal, lelaki, dan adil. Dua orang saksi ini bisa diwakilkan oleh pihak keluarga ataupun orang yang dipercaya.

5. Ijab dan Qabul

Rukun nikah yang selanjutnya adalah ijab dan qabul. Ijab dan qabul adalah janji suci kepada Allah Subhanahu Wa Ta’ala didepan penghulu, wali, dan saksi.

Bersamaan dengan disebutkannya ucapan “Saya terima nikahnya…”, maka dalam waktu itu pula mempelai laki-laki dan perempuan telah sah untuk menjadi sepasang suami istri.

Syarat Sah Nikah

Selain rukun pernikahan dalam Islam ada yang menjadi syarat sah nikah yang wajib dipenuhi, ketentuannya adalah sebagai berikut:

1. Beragama Islam

Pengantin pria dan wanita haruslah dalam keadaan beragama Islam. Begitupula dengan saksi, wali maupun penghulu. Tidak sah jika seorang muslim menikahi non muslim dengan menggunakan tata cara ijab dan qabul Islam.

2. Bukan Menikah dengan Mahrom

Pernikahan diharamkan jika kedua mempelai merupakan mahrom. Mahrom atau mahram secara garis besar adalah orang-orang yang tidak boleh dan tidak perlu dinikahi. Dibawah akan dijelaskan pada pembahasan lebih lanjut mengenai mahram.

3. Tidak Sedang melaksanakan haji

Syarat sah menikah berikutnya yakni tidak sedang berhaji. Seperti dalam hadits Riwayat Muslim:

“Seorang yang sedang berihram tidak boleh menikahkan, tidak boleh dinikahkan, dan tidak boleh mengkhitbah.” (HR. Muslim)

4. Bukan Karena Paksaan

Syarat sah yang terahir dari pernikahan Islam adalah tidak menikah karena paksaan. Pernikahan haruslah dikarenakan keinginan, keikhlasan dan pilihan kedua mempelai untuk menjalin ikatan pernikahan.

Hukum Nikah

Terdapat beberapa konsep atau kondisi dalam menentukan suatu hukum pernikahan dalam agama Islam, yaitu:

1. Wajib

Hukum nikah dalam Islam dikatakan wajib apabila seseorang telah memenuhi kriteria mampu, baik secara usia maupun finansial. Kemudian ia juga dalam kondisi harus terpenuhi kebutuhan seksualnya, karena bila ia tidak segera menikah dikhawatirkan berbuat zina.

2. Sunnah

Dasar hukum nikah menjadi sunnah bila seseorang menginginkan sekali punya anak dan tak mampu mengendalikan hasrat seksualnya namun belum mapan misal dari segi usia atau finansialnya. Atau sebaliknya telah mapan namun belum harus terpenuhi hasrat seksualnya.

3. Makruh

Hukum nikah yang selanjutnya adalah makruh. Hal ini terjadi pada kondisi bila seseorang akan menikah tetapi tidak berniat untuk memperoleh anak, juga ia mampu menahan diri dari berbuat zina. Kemudian, apabila ia menikah ibadah sunnahnya akan terlantar.

4. Mubah

Hukum nikah yang selanjutnya adalah mubah. Sama dengan makruh kondisinya adalah bila seseorang akan menikah tetapi tidak berniat untuk memperoleh anak, juga ia mampu menahan diri dari berbuat zina. Perbedaannya dengan hukum makruh adalah nikah menjadi mubah apabila jika ia menikah ibadah sunnahnya tidak sampai terlantar.

5. Haram

Haram pernikahan jika seseorang laki-laki menikah justru akan merugikan istrinya, karena tidak mampu memberi nafkah lahir dan batin. Atau jika menikah akan membuatnya mencari mata pencaharian dengan hal yang diharamkan oleh Allah.

Mahram

Mahram merupakan orang-orang yang haram dinikahi yang pada hal ini akan dijelaskan sebagai wanita yang dilarang dinikahi dalam Islam. Dalam al-Fiqh al-Manhaji Dr. Mustafa al-Khin menjelaskan mahram menjadi dua kategori yaitu mahram muabbad dan mahram muaqqat.

Mahram Muabbad

Mahram muabbad (permanen) adalah wanita yang haram untuk dinikahi selama-lamanya apapun keadaannya. Hubungan mahram muabbad yaitu karena tiga hal: kekerabatan, perkawinan, dan persusuan.

Karena Kekerabatan

Mahram muabbad yang disebabkan ikatan kekerabatan atau nasab ada tujuh yaitu :

1. Ibu, ibunya ibu (nenek), ibunya ayah (nenek), ibunya nenek (buyut), hingga terus ke atas.

2. Saudara perempuan, baik seayah-seibu, seayah, maupun seibu.

3. Anak perempuan, anak perempuan dari anak laki-laki (cucu), anak perempuan dari anak perempuan (cucu), anak perempuan dari cucu (cicit), hingga terus ke bawah.

4. Anak perempuan dari saudara perempuan (keponakan), baik saudara seayah-seibu, seayah, atau seibu.

5. Anak perempuan dari saudara laki-laki (keponakan), baik saudara seayah-seibu, seayah, atau seibu.

6. Saudara perempuan ibu (bibi), bibinya ibu, bibinya nenek, hingga terus ke samping.

7. Saudara perempuan ayah (bibi), bibinya ayah, bibinya kakek, hingga terus ke samping.

Karena Sebab Perkawinan

Mahram muabbad karena sebab perkawinan ada empat:

1. Istri ayah (ibu tiri), istri kakek (nenek tiri), dan terus ke atas, dengan catatan sang ayah atau sang kakek telah bergaul suami-istri dengannya.

2. Ibu istri (mertua), nenek istri, hingga terus ke atas, walaupun baru sekadar akad nikah dengan anaknya belum bergaul suami-istri.

3. Istri anak (menantu), istri cucu, hingga terus ke bawah, walaupun sang anak atau cucu baru sekadar akad dan belum bergaul suami-istri. Berbeda jika status “anak” atau “cucu” tersebut adalah anak angkat. Sehingga boleh hukumnya menikah dengan mantan istri anak angkat.

4. Anak perempuan istri (anak tiri), anak perempuan dari anak tiri (cucu tiri), dengan catatan ibu si anak tersebut telah dicampuri.

Karena Persusuan

Mahram muabbad karena persusuan jumlahnya ada tujuh, seperti mahram nasab. Namun yang disebutkan ayat Al-Qur’an hanya dua, sehingga sisanya dapat dianalogikan dengan mahram nasab lainnya. Adapun ketujuh mahram persusuan dimaksud adalah:

1. Ibu persusuan, seorang perempuan yang menyusui Anda, termasuk nenek persusuan, hingga ke atas.

2. Anak perempuan dari saudara perempuan persusuan (keponakan).

3. Saudara perempuan persusuan, yaitu perempuan yang disusui oleh perempuan yang menyusui Anda. Dikecualikan jika saudara perempuan persusuan Anda itu ingin menikah dengan saudara laki-laki Anda. Maka itu dihalalkan.

4. Anak perempuan dari saudara laki-laki persusuan (keponakan).

5. Bibi persusuan, yakni perempuan yang menyusu bersama ibu Anda.

6. Bibi persusuan, yakni perempuan yang menyusu bersama ayah Anda.

7. Anak perempuan persusuan, yakni anak perempuan yang menyusu kepada istri Anda, sehingga Anda menjadi ayah persusuannya.

Tentang mereka, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam telah bersabda, “Persusuan itu mengharamkan apa yang haram karena kelahiran,” (HR al-Bukhari&Muslim).

Mahram Muaqqat

Adapun mahram muaqqat atau mahram sementara adalah perempuan-perempuan yang haram dinikah karena sebab tertentu. Bila sebabnya hilang, maka hilang pula keharamannya. Mereka adalah:

1. Adik/kakak ipar. Maknanya, tidak boleh menikah dengan seorang perempuan sekaligus saudaranya dalam waktu bersamaan, sampai pada jika perempuan yang pertama meninggal atau setelah dicerai sampai habis masa iddahnya,  baru boleh menikah dengan saudaranya.

2. Bibi istri. Dengan kondisi sama dengan penjelasan pada poin pertama.

3. Perempuan yang kelima. Artinya, tidak boleh seorang laki-laki menikahi sampai lima perempuan. Sampai pada jika salah seorang dari empat istrinya ada yang meninggal dunia atau dicerai.

4. Perempuan musyrik penyembah berhala, yaitu sampai ia Islam.

5. Perempuan bersuami. Sampai dia tidak lagi dalam ikatan pernikahan dan selesai masa iddahnya.

6. Perempuan yang masih menjalani masa iddah, yaitu masa tunggu setelah ditinggal cerai mati atau talaq.

7. Perempuan yang telah ditalak tiga. Tidak halal bagi seorang suami merujuk atau menikahi kembali istrinya yang telah ditalak tiga. Kecuali istrinya telah menikah lagi kemudian bercerai talaq atau ditinggal mati. Barulah boleh suami sebelumnya menikahinya kembali

Demikianlah penjelasan mengenai Pernikahan Dalam Islam. Semoga apa yang dibahas pada artikel ini dapat membantu kita memahami bagaimana membentuk rumah tangga yang harmonis dalam Islam.

Dapat kita tarik kesimpulan tentunya rumah tangga yang baik dimulai dengan segala sesuaru yang benar dan diniatnya hanya karena Allah Ta’ala. Allahu a’lam bish shawab.

Hukum Aqiqah

Kelahiran merupakan hal yang sangat menggembirakan bagi siapapun, sehingga mendatangkan banyak ucapan selamat bagi keluarga yang baru dikaruniai seorang bayi. Apabila ada seorang bayi...
Neny S.
5 min read

Doa Kelahiran Anak

Neny S.
5 min read

Doa Ibu Hamil

Neny S.
4 min read

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *