Sholat Tasbih

Sholat Tasbih

Shalat merupakan ibadah yang dilaksanakan oleh seorang umat muslim untuk terhubung secara spiritual kepada Allah Subhanahu Wa Ta’ala.

Terdapat shalat yang wajib dilaksanakan maupun yang sunnah. Ada banyak jenis shalat sunnah yang dapat diamalkan oleh seorang muslim dengan keutamaan yang berbeda-beda.

Salah satu dari shalat sunnah tersebut adalah shalat tasbih. Disebut dengan salat tasbih karena ada banyak bacaan tasbih didalam pelaksanaannya, yaitu sekitar 300 bacaan tasbih.

Banyak umat muslim yang melaksanakan sholat sunah tasbih ini terutama pada malam nisfu sya ban.

Pengertian Sholat Tasbih

Para ulama menyebutkan shalat tasbih dalam kategori sunnah dengan berdasar pada sebuah hadits riwayat Abu Rafi’, yang mana Rasulullah memberitahu paman beliau yaitu Abbas tentang tata cara dan keutamaan menunaikan shalat tasbih.

Rasulullah memberi tahukan kepada pamannya Abbas, bahwasannya shalat tasbih adalah sholat yang sangat dianjurkan minimal sekali seumur hidup. Dalam hadist yang cukup panjang berikut, yang artinya:

Dari Ibnu Abbas, bahwa Rasulullah berkata kepada Abbas bin Abdul Muthalib, “ Hai Abbas, hai pamanku, maukah engkau aku beri? Maukah engkau aku kasih? Maukah engkau aku beri hadiah? Maukah engkau aku ajari sepuluh sifat (amalan)? Jika engkau melakukannya, Allah mengampuni dosamu: dosa yang awal dan yang akhir, dosa yang lama dan yang baru, dosa yang tidak disengaja dan yang disengaja, dosa yang kecil dan yang besar, dosa yang rahasia dan terang-terangan, sepuluh macam (dosa).

Engkau shalat empat rakaat. Pada setiap rakaat engkau membaca Al-Fatihah dan satu surat. Jika engkau telah selesai membaca  pada awal rakaat, sementara engkau masih berdiri, engkau membaca, ‘Subhanallah, walhamdulillah, walaa ilaaha illa Allah, wallahu akbar’ sebanyak 15 kali. Kemudian rukuk, maka engkau ucapkan (tasbih) itu sebanyak 10 kali. Kemudian engkau angkat kepalamu dari rukuk, lalu ucapkan itu sebanyak 10 kali.

Kemudian engkau turun sujud, ketika sujud engkau ucapkan itu sebanyak 10 kali. Kemudian engkau angkat kepalamu dari sujud, maka engkau ucapkan itu sebanyak 10 kali. Kemudian engkau bersujud, lalu ucapkan  itu sebanyak 10 kali. Kemudian engkau angkat kepalamu, maka engkau ucapkan (tasbih) itu sebanyak 10 kali. Maka itulah 75 pada setiap satu rakaat. Engkau lakukan itu dalam empat rakaat.

Jika engkau mampu melakukan  itu setiap hari sekali, maka lakukanlah! Jika engkau tidak melakukannya, maka  setiap bulan sekali! Jika tidak, maka setiap tahun sekali! Jika engkau tidak melakukannya, maka sekali seumur hidupmu.” (HR. Abu Dawud 1297)

Jadi, dalam satu rakaat saja kita telah membaca tasbih sebanyak 75 kali. Jika ditunaikan empat rakaat maka terpenuhilah 300 kali tasbih.

Sholat tasbih memiliki keutamaan diantaranya dapat membuat hati jadi lebih tenang dan tenteram.

Ibadah sunah ini juga dipercaya bisa menggugurkan dosa hingga menghindarkan diri dari penyakit berbahaya.

Waktu Pelaksanaan Sholat Tasbih

Mengenai waktu pelaksanaan shalat tasbih pada dasarnya dapat dilakukan kapanpun baik dikala siang maupun malam hari, sepanjang tidak pada waktu yang dilarang (seperti setelah subuh dan ashar serta sebelum dzuhur).

Hanya saja Imam Nawawi mengemukakan pendapat yang menyatakan adanya perbedaan dalam teknis pelaksanaan shalat tasbih di siang dan malam hari.

Menurutnya bila shalat tasbih dilakukan di malam hari maka akan lebih baik bila dilakukan perdua rakaat masing-masing dengan satu salam.

Namun bila dilakukan di siang hari maka boleh dilakukan dua rakaat satu salam atau langsung empat rakaat dengan satu salam.

Baca juga : Tata Cara Sholat Hajat

Tata Cara dan Bacaan Sholat Tasbih

Lantas bagaimanakah gambaran pelaksanaan shalat tasbih? Ibnu Hajar Al-Haitami di dalam kitabnya Al-Minhajul Qawim menuliskan yang artinya :

“Dan adalah shalat tasbih, yaitu shalat empat rakaat di mana dalam setiap rakaatnya setelah membaca surat Al-Fatihah dan surat lainnya membaca kalimat subhanallah wal hamdu lillah wa la ilaha illallahu wallahu akbar.

Di dalam kitab Ihya ditambahi wa la haula wa la quwwata illa billah sebanyak 15 kali, dan pada tiap-tiap rukuk, i’tidal, sujud, duduk di antara dua sujud,dan duduk setelah sujud yang kedua masing-masing  membaca sebanyak 10 kali.

Maka itu semua berjumlah 75 kali dalam setiap satu rakaat.” (Ibnu Hajar Al-Haitami, Al-Minhajul Qawim)

Tata cara pelaksanaan shalat sunnah tasbih hakikatnya tidak jauh berbeda dengan shalat lainnya, baik mengenai syarat maupun rukunnya.

Hanya saja ada tambahan bacaan kalimat tasbih dalam jumlah tertentu.

Shalat tasbih juga dilakukan seorang diri atau tidak secara berjamaah.

Dari penjelasan di atas dapat kita simpulkan mengenai tata cara pelaksanaan shalat tasbih yang benar adalah sebagai berikut:

Niat

Niat shalat tasbih adalah keinginan dari dalam hati untuk menyengaja hendak melaksanakan shalat tasbih.

Takbiratul ihram

Mengangkat tangan seperti pada gambar dibawah seraya mengucapkan “Allaahu Akbar”.

Gambar orang Sholat Tasbih takbiratul ihram

Menyedekapkan kedua tangan seperti pada gambar berikut.

Posisi bersedekap sholat tasbih

Pandangan menuju ke satu titik di sajadah (tempat sujud), kemudian dilanjutkan membaca doa iftitah.

Membaca Surat Al-Fatihah

Kemudian membaca surat al-Fatihah :

Surat Al-Fatihah Sholat Tasbih

Membaca Surat Atau Ayat-Ayat Dari Al-Qur’an

Selesai membaca Al-Fatihah selanjutnya membaca satu surah atau ayat-ayat tertentu dari al-Qur’an.

Membaca Kalimat Tasbih

Sebelum rukuk terlebih dahulu membaca kalimat subhaanallaah wal hamdu lillaah wa laa ilaaha illallaahu wallaahu akbar (untuk selanjutnya kalimat ini disebut tasbih) sebanyak 15 kali.

Rukuk

Selanjutnya ruku’ dengan cara mengangkat kedua tangan setinggi telinga sambil membaca “Allahu Akbar”, lalu badan membungkuk.

Gambar orang Sholat Tasbih takbiratul ihram

 

Gambar orang rukuk Sholat Tasbih

Kedua tangan menggengam lutut, mata memandang tempat sujud, punggung dan kepala rata, kemudian membaca doa:

سُبْحَانَ رَبِّىَ الْعَظِيمِ وَبِحَمْدِهِ

Subhaana rabbiyal azhiimi wa bi hamdih 3x

“Maha Suci Tuhanku Yang Maha Agung dan dengan segala puji bagi-Nya.”

Pada saat rukuk sebelum bangkit terlebih dahulu membaca tasbih sebanyak 10 kali.

I’tidal

Setelah itu baru kemudian bangkit untuk I’tidal. Yakni bangun dari rukuk untuk berdiri tegak, dengan mengangkat kedua tangan sejajar dengan telinga, seraya mengucapkan :

سَمِعَ اللَّهُ لِمَنْ حَمِدَهُ

Sami’allaahu liman hamidah

“Allah Maha Mendengar orang yang memujiNya.” (HR. Bukhari & Muslim)

Gambar orang i'tidal sholat tasbih

Saat i’tidal diperintahkan untuk memandang ke arah tempat sujud seraya membaca doa :

رَبَّنَا وَلَكَ الْحَمْدُ

Robbanaa walakal hamdu

“Wahai Tuhan kami, bagiMu segala puji.” (HR. Bukhari & Muslim)

Ketika sedang I’tidal kemudian membaca tasbih sebanyak 10 kali.

Sujud

Selanjutnya lakukanlah gerakan sujud sambil membaca “Allahu Akbar”, dengan kedua lutut terlebih dulu, yakni menempelkan dahi, hidung, kedua telapak tangan, kedua lutut dan kedua kaki di lantai (sajadah).

Gambar orang sujud sholat tasbih

Kemudian membaca doa :

سُبْحَانَ رَبِّىَ الْأَعْلَى وَبِحَمْدِهِ

Subhaana robbiyal ‘a’la wabihamdih 3x

“Mahasuci Tuhanku yang Mahatinggi dan segala puji bagiNya.”

Pada saat masih dalam posisi sujud kemudian membaca tasbih sebanyak 10 kali.

Iftirasy (Duduk Diantara Dua Sujud)

Setelah sujud kemudian duduk dengan mengucapkan “Allaahu Akbar”, duduk ini disebut duduk di antara dua sujud (karena nantinya akan kembali melakukan sujud).

Caranya adalah dengan menduduki kaki kiri, dan telapak kaki kanan berdiri serta jarinya terletak di alas menghadap kiblat).

Gambar orang duduk antara dua sujud sholat tasbih

Seraya membaca :

رَبِّ اغْفِرْ لِى وَارْحَمْنِى وَاجْبُرْنِى وَارْزُقْنِى وَارْفَعْنِى

Robbighfirlii warhamnii wajburnii warzuqnii warfa’nii

“Ya Allah ampunilah aku, kasihanilah aku, penuhilah kebutuhanku, berilah aku petunjuk dan tinggikanlah aku.” (Abu Dawud)

Pada saat duduk di antara dua sujud sebelum melakukan sujud kedua membaca tasbih sebanyak 10 kali.

Setelah itu kembali melakukan sujud yang kedua (seperti keterangan pada poin ke 9).

Pada saat sujud kedua sebelum bangun membaca tasbih sebanyak 10 kali. Lalu bangkit untuk melanjutkan rakaat kedua.

Tasyahhud Akhir

Perbedaan dengan rakaat pertama adalah ketika selesai sujud kedua pada rakaat kedua ini kemudian melakukan doa tasyahhud akhir dengan cara duduk tasyahhud (tahiyat) akhir.

Caranya adalah orang yang shalat duduk menyender pada pangkal paha kiri dengan posisi telapak kaki kiri keluar dari bagian bawah kaki kanan, sementara telapak kaki kanan dalam posisi tegak.

Gambar orang tahiyat akhir sholat tasbih

Pada posisi ini hendaklah tangan kiri diletakkan di atas paha kiri dengan posisi jari-jari tangan yang terkembang, dan meletakkan tangan kanan di paha kanan seraya menegakkan jari telunjuk kanan dimulai dari awal tasyahhud (Atahiyat), kemudian membaca :

اَللَّهُمَّ صَلِّ عَلىَ مُحَمَّدٍ وَعَلىَ آلِ مُحَمَّدٍ كَماَ صَلَّيْتَ عَلىَ إِبْرَاهِيْمَ وَعَلىَ آلِ إِبْرَاهِيْمَ إِنـَّكَ حَمِيْدٌ مَجِيْدٌ اَللَّهُمَّ باَرِكْ عَلىَ مُحَمَّدٍ وَعَلىَ آلِ مُحَمَّدٍ كَماَ باَرَكْتَ عَلىَ إِبْرَاهِيْمَ وَعَلىَ آلِ إِبْرَاهِيْمَ إِنـَّكَ حَمِيْدٌ مَجِيْدٌ

Allahumma sholli ‘alaa Muhammad wa ‘alaa aali Muhammad kamaa shollaita ‘alaa Ibrahim wa ‘alaa aali Ibrahim innaka hamiidummajiid. Allahumma baarik ‘alaa Muhammad wa ‘alaa aali Muhammad kamaa baarokta ‘alaa Ibrahim wa ‘alaa aali Ibrahimm innaka hamiidum majiid.

“Ya Allah, berilah rahmat kepada Nabi Muhammad dan keluarga Nabi Muhammad sebagaimana Engkau telah memberikan rahmat kepada Nabi Ibrahim dan keluarga Nabi Ibrahim. Sesungguhnya Engkau Maha Terpuji lagi Maha Mulia. Ya Allah, berilah keberkahan kepada Nabi Muhammad dan keluarga Nabi Muhammad sebagaimana Engkau telah memberikan keberkahan kepada Nabi Ibrahim dan keluarga Nabi Ibrahim. Sesungguhnya Engkau Maha Terpuji lagi Maha Mulia.” (HR. Bukhari)

Pada saat tasyahhud akhir sebelum salam membaca tasbih sebanyak 10 kali. Lalu kemudian melakukan salam.

Salam

Yang terakhir adalah mengucapkan salam (assalaamu’alaikum wa rahmatullaah), yang diikuti dengan menengokkan wajah ke kanan pada saat mengucapkan kata ‘wa rahmatullah’ yang pertama dan menengokkan wajah ke kiri pada saat mengucapkan kata ‘wa rahmatullah’ yang kedua.

Gambar orang salam sholat tasbih

Ulama yang Melemahkan Hadits Shalat Tasbih

Sebagian ulama berpendapat bahwasannya hadits shalat tasbih adalah lemah. Di bawah ini di antara lain:

1.   Abu Bakar Ibnul A’rabi. Beliau mengomentari hadits Abu Rafi’ yang diriwayatkan oleh Imam Tirmidzi dengan berkata, “Hadits Abu Rafi’ ini dha’if, tidak memiliki asal yang shahih dan hasan.”

2.    Abul Faraj Ibnul Jauzi rahimahullah. Di dalam kitabnya al-Maudhu’at beliau men-dha’if-kan semua hadits mengenai shalat tasbih dan menjelaskan kelemahannya.

3.    Imam adz-Dzahabi rahimahullah. Beliau menganggapnya termasuk hadits munkar.

Ulama yang Menguatkan Hadits Shalat Tasbih

Namun, terdapat juga sejumlah ulama besar Ahli Hadits yang menguatkan dan menshahihkan hadits shalat tasbih, di antaranya:

1.    Ar-Ruyani rahimahullah. Beliau berkata dalam kitab al-Bahr, di akhir kitab al-Janaiz, “Ketahuilah, bahwa shalat tasbih dianjurkan, disukai untuk dilakukan dengan rutin setiap waktu, dan janganlah seseorang lalai darinya.”

2.    Ibnul Mubarak. Ketika beliau ditanya, “Jika seseorang lupa dalam shalat tasbih, apakah dia bertasbih masing-masing 10 dalam dua sujud sahwi?” Kemudian beliau menjawab, “Tidak, Shalat tasbih itu hanyalah 300 tasbih.” Dalam riwayat ini, dapat diketahui bahwa Ibnul Mubarak tidak mengingkari adanya shalat tasbih.

3.    Al-Hafizh al-Mundziri. Beliau berkata, “Hadits ini telah diriwayatkan oleh banyak sahabat Nabi..”

4.    Imam Nawawi rahimahullah. Beliau membuat satu bab yang berjudul ‘Dzikir-dzikir Shalat Tasbih’. Beliau termasuk ulama yang menyatakan disyariatkannya shalat tasbih.

5.    Imam Ibnu Qudamah rahimahullah. Beliau berkata, “Disukai untuk melakukan shalat tasbih.”

Selain para ulama tersebut di atas, masih ada beberapa lagi ulama lain yang tidak kami sebutkan pada artikel ini.

Kesimpulan

Derajat hadits shalat tasbih adalah shahih li ghairihi (shahih yangmana keshahihannya tidak datang dari sanad itu sendiri, namun datang dari bergabungnya riwayat lain), sehingga dapat diamalkan.

Adapun pendapat para ulama yang men-dha’if-kannya atau menyatakannya palsu adalah karena tidak ditemukannya hadits yang kuat sanadnya. Namun bukan berarti menjadikan semua sanad hadits shalat tasbih tidak shahih.

Demikianlah penjelasan mengenai bacaan sholat tasbih lengkap beserta tulisan latin doanya dan artinya mulai dari takbiratul ihram hingga salam.

Semoga bermanfaat dan amalan kita semua diterima oleh Allah Subhanallahu Wa Ta’ala, aamiin. Wallahu a’lam bish shawab.

Tinggalkan Balasan

Alamat email anda tidak akan dipublikasikan. Required fields are marked *